Rabu, 24 April 2013

Sepotong Hati di Stasiun Kereta

Aku menatap sepatuku yang sekarang basah terkena percikan air hujan. Sial! Susah payah tadi pagi aku menyemirnya. Sekarang jadi lusuh begini. Kuraih sebuah tissue di saku kemejaku, dan berusaha mengeringkan sepatuku. Sedikit membantu.

”Hai, Nay!”

Aku mencari sumber suara, tak lagi memedulikan nasib sepatuku. Seorang gadis dengan mantel bulu berwarna cokelat dan sepatu boots berwarna senada melambaikan tangan ke arahku.

”Hai!” balasku. Aku melambaikan tanganku seraya tersenyum.

Namanya Grita. Ia kini mendekat dan berdiri di sebelahku. Berkali-kali ia lirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.

”Kita hampir telat,” katanya kemudian.

”Oh...,” jawabku mengambang.

”Kok cuma ’oh’, sih? Aku tidak sepertimu yang biasa telat,” ledeknya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Lima detik kemudian  sebuah kereta tampak dari kejauhan. Sambil melonjak kegirangan, Grita menatapku.

”Kita tidak jadi telat!”

Kini Grita berjalan menuju kereta dan menggandeng tanganku—lebih tepatnya setengah menyeretku. Ku tepis tangannya dan berjalan kembali ke tempatku semula.

”Aku nanti saja, Grit.”

”Hei, mungkin ini kereta terakhir sebelum bel masuk berbunyi, lho!” protesnya.

Aku menunduk lesu. Mungkin Grita sudah mengerti maksudku, karena setelah itu ia masuk ke kereta tanpa menghiraukanku lagi.

Kereta perlahan mulai berjalan. Aku merelakan kereta terakhirku. Kulambaikan tangan padanya yang kini ada di balik jendela dengan wajah protesnya, seolah tidak ingin aku lagi-lagi terlambat.

”Ah, kenapa belum juga datang?” gumamku. Entah kenapa, aku kini mulai mengkhawatirkan keterlambatanku yang sudah kesekian kalinya. Tidak ada lagi anak berpakaian seragam menunggu di stasiun. Cuma aku, dan sesosok pemuda yang duduk di belakangku.

Sambil merutuki nasibku sendiri, aku duduk di kursi tempatku biasa menunggu. Siapa sih, orang bodoh yang mau menunggu setiap hari di stasiun kereta lebih dari dua jam? Siapa sih, orang bodoh yang rela terlambat sekolah dan dihukum membersihkan toilet? Ya, itu semua aku. Jawabannya adalah aku!

Di tengah dinginnya hujan, mataku kini tertuju pada seorang pemuda yang kini berlari ke arahku. Ia menyunggingkan senyum di bibir tipisnya. Ke arahku pula! Tunggu sebentar, dia...

Aku mengarahkan telunjuk ke wajahku. Seperti ingin berkata, kau tersenyum padaku?
Benarkah dia? Dia yang selama ini telah... benarkah ia menyadari keberadaanku? Mataku kini membulat, dan kurasa pipiku kini memerah. Saking kaget setengah tidak percaya, membalas senyumnya pun rasanya sulit.


Aku bangkit berdiri. Seakan tak peduli percikan air hujan yang kini semakin deras dan membasahi rokku. Aku berdiri, seakan siap menyambutnya. Dan apa yang terjadi? Dia..., dia bukan tersenyum untukku. Lebih tepatnya, dia tidak menyadari keberadaanku. Dia berjalan melewatiku dan menghampiri seorang pemuda yang duduk di belakangku. Sambil menunduk malu, aku menoleh ke belakang.


Aku kini tak menghiraukan derasnya air hujan yang seakan menghantam apa pun yang ada di bawahnya, termasuk aku. Aku berjalan keluar stasiun. Aku tidak ingin naik kereta hari ini. Payung yang kukenakan pun tak cukup membantu, pipiku tetap basah. Ah, bukan saatnya menyalahkan payung karena airmataku sendiri.


Kereta kini berjalan pelan dan berhenti. Pemuda itu masuk bersama sahabatnya. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. 

”Kau Naya? Sekolah kita searah, kenapa kita tidak berangkat bersama?”

 Ah, kalimat itu seakan kalimat yang paling ingin kudengar darinya. Dari pemuda itu. Dari Ichsan Arditia Putra, kakak Grita.

***


Ini pesenannya Ichsan Arditia Putra. Maaf kalo mengecewakan. Hehe.





Rabu, 13 Februari 2013

Hujan di Angkutan Merah Jambu --Buletin Perdu edisi Desember 2012

Aku adalah mendung
Dan akan selamanya menjadi mendung

Kubaca berulangkali pesan dinding yang sejak dua hari yang lalu muncul di kronologi akun facebook-ku. Aku berharap menemukan arti larik bermajas itu. Siapa sebenarnya dirimu? Mengapa kau selalu mengirimkan teka-teki kepadaku?

”Ah, sudahlah!” gumamku tak mau ambil pusing. Kumatikan laptop dan kurebahkan tubuhku di kasur. Hujan yang sejak tadi sore jatuh, belum reda. Malam yang dingin, dan aku pun terlelap dalam buaian irama hujan.

Jalanan  yang masih basah mengantarkanku dan angkutan merah jambu yang aku naiki menuju sekolah. Aku menatap jok depan angkutan ini. Masih sama sejak satu tahun yang lalu. Tidak ada dirinya.

”Pagi, Keni! Pasti semalam wayangan belajar Kimia. Lihat matamu!”

”Ihh, sok tahu, kamu. Ini ulah Chemie.”

”Dia lagi? Kamu mulai tertarik? Lalu, bagaimana dengan Indra, cowok angkutan pink kamu?”

”Sssttt, jangan keras-keras! Sebentar lagi dia datang. Aku tidak...,”

Sedetik kemudian aku baru sadar kalau Indra sudah di depan pintu. Jantungku sampai mau meloncat. Bagaimana ini? Aku bisa pingsan karena malu jika dia mendengarnya. Aku menarik napas. Tidak ada yang terjadi. Aku bisa bernapas lega.

”Pagi, Rum!” sapa Indra memecah kebekuan di antara kami.

”Pagi. Kehujanan?” tanya Arum.

”Iya. Tetapi inilah saat yang selalu aku tunggu. Hujan,” jawab Indra.

”Hah?”

”Bisa main air.”

Konyol. Mereka berdua melupakan keberadaanku. Aku tercenung. Tak bisakah mengucapkan hai padaku bila bertemu? Jika masih terlalu sulit, apakah sekadar tersenyum masih berat untukmu?

Entah mengapa aku tidak bisa konsentrasi hari ini. Pelajaran Kimia yang selalu aku nanti pun kini rasanya membosankan. Aku menatap ke luar jendela. Aku berpikir keras tentang mendung. Selamanya menjadi mendung? Apa maksudnya? Mendung yang telah menumpahkan hujan, bantu aku!

Deg! Hujan, mendung, semua berputar di otakku. Mungkinkah itu? Chemie, apakah itu benar dirimu? Dirimu yang tahu segala sesuatu yang aku sukai? Seharusnya aku sudah tahu sejak awal. Namamu, kau pilih nama itu karena kau tahu aku sangat menyukai Kimia, kan?

Aku sudah tahu apa maksud teka-teki itu.
Temui aku di tempat favoritku, di jam yang sama hanya jika hujan. J

Kuakhiri pesan dindingku untuk Chemie dengan emoticon smile. Besok aku akan bertemu dengannya di tempat favoritku. Ya, hanya jika hujan karena aku ingat betul bagaimana malunya  aku waktu itu.

***
Gerimis tak meredupkan semangatku pagi ini. Malahan sebaliknya, inilah yang sudah aku tunggu sejak seminggu yang lalu. Kurasa awan di langit sedang menguji kesabaranku. Aku berdiri di bawah gardu bertuliskan ”Denokan”. Itu dia, angkutan merah jambu yang sejak sepuluh menit yang lalu kutunggu. Sepuluh menit terlama dalam hidupku.

Inilah waktunya melaksanakan ritual pagi: menatap jok depan. Aku tersenyum melihat siapa yang ada di sana.
”Jika tahun lalu aku menjadi hujan, maka sekarang waktunya kau menjadi hujan,” kataku.

”Jika aku ingin tetap menjadi mendung?” 

Aku diam sejenak.

”Aku hanya bercanda. Aku lelah menjadi mendung yang tidak bisa mencurahkan isi hatinya,” lanjutnya sembari tersenyum.

Dinginnya hujan pagi ini terhapus oleh kehangatan senyummu. Ah, kau bagaikan histeria.


***


Senin, 17 Desember 2012

Cerita Hati Ini Cinta Pertama

Judul       : Cerita Hati Ini Cinta Pertama
Penulis    : Bernard Batubara, dkk
Penerbit  : BukunĂ©
Terbit      : November 2012
Halaman : 298
Genre      : Fiksi
ISBN      :  602-220-080-6
Cinta pertama hanya datang satu kali. Ketika kau tak bisa menangkapnya, kau akan kehilangan. Tapi, kau akan selalu tahu, Ia akan selalu ada di hati – selamanya. Seperti kata banyak orang, cinta pertama punya cerita tersendiri. Kisah indah yang tak akan pernah lekang oleh waktu.
  
Buku ini berisi kumpulan cerita [cinta pertama] hasil karya dari 17 penulis - 17 cerita cinta pertama yang ditulis dari hati. Sayap Kupu-kupu (Kireina Enno), Bianglala (Dedek Fidelis Sinabutar), Satu Kilometer (Suci Nurkhasanah), Tulang Rusuk Susu (Indra Widjaya), First Love in The Eyes (Prince Damo Rejeb), Dear My First Love (Fitrah Amalia), Jebakan Cinta Pertama (Erditya Arfah), Kupu-kupu Terakhir (Sulfiza Ariska), Sembilan Hari Denganmu (Khyarina), Delapan Belas (Dian Purnama), Kau yang Datang Bersama Hujan (Chika Rei), Partikel “Titik” Itu (Nabilla Chafa), Cinta Pertama (Dannie Faizal), Lewat Surat Ini Aku Bercerita (Khoirunnisa Zukhrufiddin), Lupa Melupakan, Rindu Dirindukan (Andhika Citra Handayani), Di Dalam Mata Dilla (Bernard Batubara) dan Memoar Alhadid Yunara (Risa Saraswati). 

Selasa, 13 November 2012

Sekadar Info Buat Nasib Naskahmu

Reni Erina

Kamu kesel banget naskahmu yang udah kamu kirim lebih dari setahun-dua tahun-empat tahun, gak dilirik-lirik redaktur? Padahal kamu udah yakin banget sampe ciyus miapah segala kalo naskahmu itu keren (menurutmu).

Kali aja:
1. Belum tentu naskahmu itu berarti ditolak. Sapa tau aja naskahmu masuk spam. Maka cek lagi di send email ya. Kalo perlu kirim berulang (dalam jarak 10 detik).

2. Kamu tidak menuliskan subjek email dengan benar. Misalnya kamu isi subjek email dengan : surat cinta (padahal isinya cerpen). Baiknya kamu tulis subjeknya dengan : Cerpen Komedi remaja_ judul

3. Kamu mengirimkannya dengan pdf, rtf, harusnya dengan doc atau docx (jangan mie dogdog ya)

4. Kamu menuliskan sapa di badan email dengan kalimat mengancam : Kepada YTH redaktur Story. Dengan ini aku kirim naskah cerpen paling keren. Tolong dibaca dan dikabari ya. Kalau sampe 3 minggu naskahku gada kabar, awas loh! (dijamin tanpa dibaca lagi, naskahmu bakal dijadiin menyan)

5. Kamu tidak mencantumkan no telepon (hari gini redaktur/sekred lebih nyaman menghubungi via telepon karena lebih cepat mendapat jawaban, daripada harus membalas emailmu utk konfrm naskah). Kalo redakturnya baik hati kayak aku, aku suka search di fb dan kirim inbox. Makanya selain no tlp hape, no tlp rumah dan no tlp tetangga, cantumkan juga nama FB-mu ya.

6. Jangan pake nama aneh-aneh untuk nama penamu. Redaktur suka ilfill kalo baca nama penulisnya ajaib, kayak nama artis korea yang keselek biji duku. Kadang (kadang ya, berarti gak selalu), ini berdampak pada aura keberuntungan naskahmu.

7. Jangan pernah mengirim cerpen yang sudah di posting di FB dan dibaca banyak orang.

8. Kalo mau kirim naskah cerpen, ya berarti cerpen, bukan resep masakan (kali aja saking semangatnya kamu salah nge-attach file.

9. Ikuti perkembangan media (penerbit) yang menjadi sasaran kiriman naskahmu.

10. Sabaaarrrr. Jangan kirim inbox ke redaktur terus-terusan untuk mengingatkan naskahmu, kan yang kirim naskah bukan cuma kamu aja, tetapi 5000 orang lainnya.

11. Kalo kamu gak sabar menunggu kabar naskahmu, silakan kirim ke media lainnya, tetapi wajib mengirimkan surat penarikan naskah kepada media pertama.

12. Kalau no 1-11 tidak terkait dengan kamu,  dan ternyata naskahmu tetep gada kabarnya, berarti kamu belum beruntung. Coba lagi, tulis lagi, kirim lagi. Penulis jangan mati gaya, jangan hanya mengandalkan sebuah cerpen saja :)

Demikian semoga menjadi pencerahan ya :)
Semangaaaaaattttt makan cokelat!
Euh, semangat menulis dan bersabar ya :)

Salam secokelat Bunda... :)

Sumber: https://www.facebook.com/notes/story-teenlit-magazine-official-group/sekedar-info-buat-nasib-naskahmu/494635330571075

Sabtu, 02 Juni 2012

Tips: Menghitung Karakter dan Memangkas Jumlah Karakter

Triani Retno

Majalah Story dan Penerbit Universal Nikko lagi bikin lomba cerpen. Seperti biasa, aturan main di Story bukan jumlah halaman, tapi jumlah karakter. Di lomba ini panjang naskah yang diminta adalah 5.000 character with spaces (kita singkat jadi cws ya). Untuk tahu udah berapa jumlah karakter dalam naskah kita, gampang kok. Di Word ada fasilitasnya. Cari aja Word Count, nanti ada laporan lengkapnya.

Nah, gimana kalo ternyata, saking semangat 45, 66, dan 98 sekaligus, naskah kita membengkak jadi 9.000 karakter? Saya safety player, memilih mengikuti peraturan. Bukan apa-apa. Males banget, deh, kalau karya saya langsung ditendang gara-gara saya sotoy bikin aturan sendiri. Nambah-nambahin jumlah karakter kan termasuk ke-sotoy-an. Jadi, kalau sudah membengkak gitu, ya, harus dipangkas.

Tapi nanti jalan cerita gue berubah dwooong?
Kita bisa memangkas jumlah karakter tanpa mengubah jalan cerita. Beneran. Saya pernah memangkas sekitar 8.000 karakter dari naskah teman baik saya. Yang semula 25rb karakter bisa tinggal 17rb karakter tanpa banyak menggunting cerita.

Kuncinya ternyata gampang. Biasakan menulis dengan benar. Contohnya, nih:
  1.    Aku hanya sekadar ingin bertemu dengan kamu saja
-----------> 48 cws. Banyak kata mubazir (tidak efektif) di sana. Hanya, sekadar, dan saja tidak perlu dipakai bareng. Pilih satu aja, ya. Ini sama tidak efektifnya seperti: masuk ke dalam, naik ke atas, turun ke bawah.

       Aku hanya ingin bertemu denganmu
-----------> 34 cws. Kata-kata mubazir udah kita buang. Kata "dengan kamu" juga bisa ditulis menjadi "denganmu". Maknanya sama, tapi jumlah karakter lebih sedikit.

2.   “Jangaaaaaaaan.....................!!!!!" teriak Salsa.
------------> 55 cws. Tidak perlu memakai banyak huruf yang sama, banyak titik, dan banyak tanda seru. Boros dan nggak bener.

    “Jangaaan...!" teriak Salsa.
-----------> 28 cws. Cukup tiga huruf a dan tiga titik. Kalau merasa efek teriaknya kurang terasa, bisa pakai huruf kapital. "JANGAAAN...!".  Namun, jangan terlalu banyak.

Yang lain:
  • Cukup tekan space bar sekali aja (satu ketuk) untuk jarak antarkata atau perpindahan kalimat baru dalam satu paragraf. Beberapa penulis punya kebiasaan memberi dua ketukan space bar. Nah, hilangkan kebiasaan ini. Space bar juga dihitung karakter, lho.
  • Cari sinonim. Kalau ada yang lebih pendek, kenapa harus yang panjang? Misalnya: harapan------->asa. Namun, nggak selalu bisa diganti sih.
  • Nggak usah bolak-balik menerangkan hal yang sama. Kalau di awal udah ditulis Amira dan Morgan itu pacaran, ya nggak usah bolak-balik ditulis, misalnya: Amira pacar Morgan atau Morgan pacar Amira. Pembaca nggak bego, kok.
  • Kata ulang ditulis serangkai, tanpa space bar (dan memang ini yang benar). Kupu-kupu, laba-laba, malu-malu. Bukan: kupu - kupu,  laba - laba, malu - malu. 

Percaya atau tidak, ribuan karakter bisa dipangkas dengan cara seperti itu. Kalau masih bengkak juga, harus tega. Setel lagu "Potong Bebek Angsa" lalu mulailah membuang bagian cerita yang tidak perlu.

(nb: Saya nggak akan ikut lomba cerpen ini. Kata Pak Kepsek sebelah, kalau saya nekat ikut, saya akan dicegat di tikungan jalan trus dipecat dari jajaran dewan guru stres)

Sumber: https://www.facebook.com/notes/story-teenlit-magazine-official-group/tips-menghitung-karakter-dan-memangkas-jumlah-karakter/213028642065080