Kamis, 24 Oktober 2013

Aku dan Rasa

Pada rasa yang selama ini menggelayuti pikiranku, kukatakan ini padanya: "Pergilah! Aku tak butuh kau. Kau hanya milik mereka yang beruntung. Dan kau tau? Orang itu bukanlah aku."

Namun rasa itu tetap di tempatnya. Tak sedikit pun ia beranjak meninggalkanku. Kali ini aku berteriak padanya, "Enyahlah! Sudah kubilang, orang itu bukanlah aku!"

Rasa itu tetap di tempatnya. Kali ini ia membeku. Seketika sunyi. #gaje

Senin, 09 September 2013

Orang Dewasa itu...

Ceritanya lagi gila bareng Wulan nih. Karena kami bosan dipanggil anak kecil terus, maka kami mencari cara biar gak dikatain anak kecil lagi. Kami mengamati sekitar dan mengidentifikasi ciri-ciri orang dewasa:

1. Modis
Mulai dari ujung kaki. Mereka gak pake sepatu kayak yang kami pake (baca: sepatu anak SD). Ya, pake higheels. Oh men, pake wedges pun kami sulit! Ckck...

Kemudian pakaian. Kami bandingin pakaian mereka dan pakaian kami. Jauh beda. Gak tau kenapa, mereka itu keliatan anggun, gak kayak kami. Terakhir, kerudung. Orang dewasa itu cara pake kerudungnya gak kayak kami. Mereka juga gak pake bros flanel (apalagi yang bentuknya klepon ).

2. Cantik(?)
Kebanyakan, orang dewasa itu pake bedak, lipstik, dan alat-alat make up lainnya. Udah keliatan deh muka-muka cari jodoh. Wkwk...

3. Tingkah lakunya beda
Mereka itu gak kebanyakan pringas-pringis kayak kami. Bicara seperlunya dan bersikap serius. Suaranya juga gak cempreng kayak kami. Mereka juga gak bingungan dan gak gampang nyasar. Gak kayak kami, pastinya.

4. Cara jalan, duduk, dan berdiri
Mereka tuh jalannya anggun dan pelan-pelan. Gak kayak kami yang katanya kalo jalan udah kayak kereta. Wkwk...

5. Terakhir: mereka tuh wangi. Selain karena pake parfum, mungkin juga karena mereka gak kebanyakan gerak dan gak kebanyakan tingkah. Jadi gak keringetan deh. Hehe.
Setelah mengidentifikasi orang dewasa, maka kami berkesimpulan kalo jadi orang dewasa itu sulit, dan banyak hal yang perlu diubah. Dan kami memutuskan untuk tetap menjadi anak kecil untuk beberapa waktu ke depan.

Senin, 05 Agustus 2013

Buletin Perdu Edisi #10

Hai hai... ^_^
Jadi ceritanya nih bulan ini Mbak Dien, yang biasa me-layout Buletin Perdu sibuk banget. Dan eng ing eng... Aku ambil inisiatif buat mencoba me-layout. Jadi berwarna dan feminim gini sih. Wkwk, tapi gak papa deh. Dan sayang banget edisi kali ini cuma terbit versi online.
Oke, ini dia penampakannya...
Buletin Perdu #10 halaman 1: Salam Perdu dan Perdu Diary-nya bikinanku lho... :p
Buletin Perdu #10 halaman 2: Flash Fiction ini karya Mbak Nailil Maghfiroh
Buletin Perdu #10 halaman 3: Ada Puisi karya Mbak Nurro Tha, Mas Ahmad Pujianto, dan Mbak Syafira A. D
Buletin Perdu #10 halaman 4: Puisi ini karya Bu Istikomah
Oke teman-teman dan Perduers, nantikan Buletin Perdu edisi berikutnya yah... Hehe, tetap semangat berkarya! :D

Senin, 29 Juli 2013

Lomba Menulis Cerpen “Mari Berbagi Mari Menginspirasi"

Lomba Menulis Cerpen “Mari Berbagi Mari Menginspirasi"
Lomba Menulis Cerpen “Mari Berbagi Mari Menginspirasi"
24 Juli 2013 pukul 23:50
Lomba Menulis Cerpen “Mari Berbagi Mari Menginspirasi" (DL: 21 Agustus 2013)
24 July 2013 at 09:48
Komunitas Perdu bersama dengan Tim Jurnalistik SMA Negeri 1 Muntilan
mengadakan lomba cerpen "Mari Berbagi Mari Menginspirasi"

Setiap orang menjalani garis hidupnya masing-masing, sehingga dalam proses itulah kita menemukan ilmu dan pengalaman yang berbeda-beda. Agar menjadi insan yang bijaksana, kita perlu belajar dari pengalaman orang lain. Saling berbagi dan saling menginspirasi merupakan langkah yang tepat untuk mencapai kebijaksanaan hidup yang sempurna.

Berbagi inspirasi tidak harus masuk tivi, atau ceramah di mimbar-mimbar, dsb tetapi bisa dengan menulis yang inspiratif.  Itu hal termudah yang setiap orang bisa lakukan. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo tuliskan pengalamanmu menjadi cerpen yang inspiratif! Ikuti Lomba Menulis Cerpen ini! Raih hadiahnya! Dan pastikan karyamu masuk dua puluh lima karya cerpen terbaik yang akan dibukukan ...!
Untukmu seluruh siswa-siswi SMA/SMK/MA se-Kabupaten dan Kota Magelang, maupun yang berdomisili di Kabupaten atau Kota Magelang diadakan lomba menulis cerpen yang akan diselenggarakan pada 21 Juli 2013
Adapun syarat dan ketenntuan pengiriman naskah cerpen sebagai berikut:

Tema lomba: Dunia remaja yang inspiratif

Setting cerita sekitar Kabupaten-kota Magelang

Peserta lomba adalah siswa-siswi SMA/AMK/MA se-kabupaten dan Kota Magelang, dibuktikan dengan scan kartu pelajar yang masih aktif, disertakan saat pengiriman naskah.

Jumlah halaman cerpen antara 4-8 halaman

Ukuran kertas A4/Quarto, font Times New Roman, size 12, spasi 1,5, margin top 3, left 3, bottom 3, right 3.
Disertakan data pribadi yang meliputi nama lengkap, asal sekolah, TL, alamat rumah, nomor yang bisa dihubungi  dibawah naskah cerpen.

Disertakan soft foto size maksimal 100 Kb.
Dikirim via e-mail ke alamat perdu_komunitas@yahoo.com dalam bentuk attachment, berupa naskah cerpen, scan kartu pelajar, dan soft foto.

Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 2 cerpen terbaiknya.

Cerpen belum pernah diikutkan pada lomba cerpen/tidak pernah diterbitkan di media cetak maupun online.
Kesesuaian naskah dengan tema lomba, tidak mengandung asusila, pornografi, serta tidak mengandung SARA.
Syarat penulisan  dan kelengkapan naskah menjadi factor penentu lolos tidaknya naskah cerpen seleksi pertama untuk dinilai oleh dewan juri.

Like fanpage Komuniatas Perdu di FAcebook dengan alamat http://facebook.com/komunitasperdu , follow twitter Komunitas Perdu @KomunitasPerdu

Deadline pengiriman naskah tanggal 21 Agustus 2013.

25 karya terbaik akan dibukukan

Pengumuman pemenang lomba pada tanggal 27 Oktober 2013

Event lomba ini GRATISSS!!!

Pemenang lomba:
Juara 1 : uang pembinaan senilai Rp 300.000,00 + sertifikat + 1 buku antologi 25 karya cerpen terbaik.
Juara 2 : uang pembinaan senilai Rp 200.000,00 + sertifikat + 1 buku antologi 25 karya cerpen terbaik.
Juara 3 : uang pembinaan sen
ilai Rp 100.000,00 + sertifikat + 1 buku antologi 25 karya cerpen terbaik.

Jika ada pertanyaan silakan menghubungi:         

Puji    (087839296642)
Jilli   (081901094798)

(Bagikan informasi penting ini kepada teman-teman yang lain ya... Sehingga, semakin banyak inspirasi di dunia ini.)
Sumber : www.
perdumenulis.blogspot.com

Lomba Menulis Cerpen "Mari Berbagi, Mari Menginspirasi" Komunitas Perdu dan Tim Jurnalistik SMA N ! Muntilan

Jumat, 24 Mei 2013

Move On, Kawan! - Buletin Perdu #7

”Kau itu memang anak yang gagal move on. Sehari maju, sehari mundur lagi.” 

”Tapi dia….”

Kali ini Nurima menatapku tajam. Baru kali ini aku melihatnya menatapku seperti itu. Aku sampai tak berani meneruskan ucapanku.

”Sadarlah! Banyak hal lain yang lebih layak kau pikirkan. Berapa nilai matematikamu kemarin? Sudah delapan? Atau sembilan?”

Aku menunduk lesu sekaligus geram. Rasanya seperti ditampar. Tidak bisakah ia mengecilkan suaranya? Aku memang meminta nasehatnya, tetapi tidak bisakah ia lebih halus? Aku lalu menghitung dengan jari, berapa kali aku mendapat delapan? Oh, tidak! Sebaiknya aku hitung saja berapa kali aku mendapat enam.

Aku menggeleng pelan.

”Suci, mengapa pucat seperti itu? Kata-kataku terlalu kasar, ya? Maaf, aku tidak bermaksud untuk….”

”Kau benar, Nurima. Seharusnya aku melupakannya,” ucapku pelan.

Aku kembali mengingat deretan kejadian mengerikan saat aku bersamanya. Ya, dia lelaki pertama yang telah membuatku berdebar setiap kali melihatnya. Mengerikan? Bukan perasaanku yang mengerikan, tetapi sikapnya padaku. Sudahlah, tidak perlu diingat lagi.

”Apa aku harus mendapat nilai delapan?” tanyaku datar pada Nurima yang kini menatapku dengan penuh rasa bersalah.

”Mungkin itu namanya memantaskan diri untuk orang yang kau cintai.” 

”Nurimaaa, katanya aku harus move on?” 

”Ups!”
***



Bu Nar, guru Matematika memasuki kelas. Suasana kelas mendadak senyap. Dari raut wajah Bu Nar, sudah tampak kekecewaan yang luar biasa. Ah, pasti lagi-lagi karena ekspektasi beliau yang terlalu tinggi dan malah membuat kami tertekan.

”Mengapa hasilnya seperti ini? Siapa kemarin yang menargetkan nilai sepuluh?”

Suasana kelas masih hening. Perlahan kami mengacungkan telunjuk ke udara. Benar, termasuk aku! Oh, target yang sungguh bodoh.

”Ini saja baru tujuh anak yang mendapat nilai delapan. Terendah masih ada nilai empat. Katanya kelas pilihan? Ra kacek![1]

Jleb! Akukah yang mendapat nilai empat? Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Ya Tuhan, berapa saja boleh asalkan tidak terendah di kelas.

”Suci Nurkhasanah…”

Tidak, itu benar-benar aku. Seketika aku lemas.

Nurima yang duduk di sebelahku memandangku penuh tanya.

”Kamu tidak senang, mendapat nilai delapan? Makanya jangan melamun. Bu Nar kan tadi bilang mau membacakan yang mendapat nilai delapan. Kamu tidak dengar, ya?”

Aku menggeleng sambil tertawa kecil. Lebih tepatnya tertawa bodoh. Benarkah?

”Gagal itu biasa. Bangkit dari kegagalan itu baru luar biasa.”

”Terima kasih kau sudah menamparku,” ucapku lirih.”Mungkin ini namanya memantaskan diri untuk orang yang aku cintai?”
 
***



[1]Tidak beda,  sama saja