Reni Erina
1. Mengapa tiap kali aku mau bikin cerpen, selalu ada ada masalah. Yang tau-tau gak mood-lah, yang tau-tau main fesbuklah..
Karena kamu gak berniat menulis cerpen. Kalau kamu sungguh-sungguh,
halangan apa pun pasti bisa kamu lewati. Gada istilah gada mood. Mood
bisa diciptakan. Ayo, jangan sampaikalah sama temanmu yang sudah dimuat
karyanya!
2. Mengapa kalau aku bikin cerpen, kok gak kelar-kelar. Di tengah-tengah pasti buntu.
Karena pikiranmu mengelana ke mana-mana. Gak fokus. Coba niatkan.
Bikin dulu kerangkanya atau coret-coretannya, supaya kamu tau tujuan
dari cerita itu akan dibawa ke mana, biar ketahuan endingnya. Kalo tetep
buntu, ya share ke temen-temen yang udah jago. Ada banyak jalan menuju
Roma, eh media (tiket ke Roma mahal ya...?)
3. Mengapa cerpenku tak sebagus cerpen yang aku baca di majalah?
Bisa jadi itu hanya perasaanmu. Supaya tahu apakah cerpenmu bagus dan
sesuai, ya beranikan diri mengirim ke media yang cocok dengan tipe
tulisanmu. Jangan membandingkan cerpenmu dengan cerpen penulis terkenal,
itu akan membuatmu down sebelum perang (eh udah gada perang). Percaya
diri sajalah. Tiap penulis kelebihan masing-masing
4. Mengapa aku susah bikin judul?
Karena kamu terpaku dengan judul-judul yang bombastis, jadi secara
moril kamu sudah tertekan duluan. Carilah kalimat atau kata ajaib dari
isi naskahmu yang bisa kamu petik sebagai judul.
5. Mengapa aku gak bisa mencari ide. Tiap di depan kompi pasti cuma bengong mandangin dekstop.
Karena pikiranmu sudah terfokus mendapatkan ide ajaib. Jangan
susah-susah dulu. Cari yang paling dekat di sekitar kita.
Kejadian-kejadian kecil yang ternyata bila diuraikan dalam cerita akan
menjadi kisah luar biasa. Ban sepeda adik yang bocor. Udin yang
diputusin pacarnya dalam seminggu. Mona yang gelisah menunggu
kekasihnya. Atau kamu sendiri yang sedang mendambakan seseorang. Lalu
cari solusinya. Ide kecil, ditambah solusi yang pas untuk mengurai
konflik, serta ending yang gak dibuat-buat, akan menjadi sebuah cerita
yang bagus.
6. Mengapa aku selalu cemas tiap kali mau ngirim cerpen ke media?
Karena kamu gak pede. Karena kamu gak berani mencoba. Segala hal bila gak percaya diri, gak akan ada hasilnya.
7. Mengapa orang lain gampang banget tembus media dan aku gak bisa kayak mereka?
Itu cuma perasaanmu. Mereka juga pernah mengalami penolakan tetapi
mereka gak pantang menyerah, terus mencoba dan mencoba lagi. Mereka
bahkan tak peduli dengan penolakan yang ke-13 kali (nyindir diri sendiri
:D). Mereka terus 'menabung naskah' di email redaktur media-media.
8. Mengapa cerpenku ditolak terus? Apakah karena cerpenku jelek?
Gak juga. Cerpen yang ditolak gak berarti cerpen itu jelek. Mungkin
kurang cocok dengan genre yang dibutuhkan media. Makanya kenali media
yang dituju.
9. Mengapa orang-orang selalu semangat ngirim naskah padahal antreannya panjang?
Semua media juga panjang kok antreannya. Jangan lihat antrean. Tapi
lihat kans-nya. Lihat kesempatannya. Dan jangan menunggu. Jajaki semua
media. Kirim, lupakan. Kirim lupakan. Kiriiim... dan di suatu masa kamu
akan terkejut mendapati 'tabungan' naskahmu tiba-tiba bermunculan di
banyak media.
10. Mengapa mereka rela antre di Story?
Karena Story media remaja yang paling banyak cerpennya. Sesuatu
banget kalau tampil di Story. Ada banyak penulis di Story yang akhirnya
lari ke skript dan skenario, karena beberapa PH mengincar nama mereka
saat melihat namanya terpampang di Story. Begitu juga dengan ilusrator.
Banyak ilustrator Story yang akhirnya didaulat membuat ilustrasi cover
buku sebuah penerbit.
--- yang terakhir, karena mereka tahu, betapa unyu dan baik hatinya Bunda Story ;) Ting!
Sumber: https://www.facebook.com/notes/story-teenlit-magazine-official-group/menulis-mengapa-begini-mengapa-begitu/520558184645456
Tidak ada komentar:
Posting Komentar