Minggu, 14 September 2014

Hidup Baru


Teringat perbincangan sore kemarin antara saya dengan bapak-ibu kos ketika saya memboyong sisa barang-barang saya. Ah, sejak kepindahan saya tiga bulan yang lalu bapak-ibu kos masih sama. Mereka dua orang yang ramah tetapi dengan cara yang berbeda (mungkin karena bapak kos adalah anggota TNI AU jadi sedikit tegas). Namun tak bisa saya pungkiri bapak kos termasuk dalam kategori tegas yang ramah.


Bapak dan ibu kos sama-sama minta maaf atas keputusan saya untuk pindah kos sebelum waktunya. Padahal dalam hati, saya berkata bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan atas keputusan saya yang sangat labil tetapi rasional waktu itu (meskipun dalam hati pula, tak bisa dipungkiri bahwa saya adalah yang paling dirugikan atas keputusan saya sendiri).

Bapak kos kemudian bercerita bahwa kejadian yang saya alami ternyata juga terjadi di tahun sebelumnya. Hanya saja bedanya adalah Mbak kos saya tersebut lebih memilih untuk bertahan dalam ruang 3x3 yang dihuni dua orang. Sampai akhirnya kelulusan tiba, barulah terungkap semua keluh kesah Mbak kos. Bedanya lagi adalah, saya memilih untuk tidak memberitahu alasan kepindahan saya, unek-unek saya, karena menurut saya itu sifatnya personal. Setelah Bapak kos bercerita tentang Mbak kos tahun lalu, saya bisa menarik kesimpulan. Ternyata masalah yang dialami mirip dengan masalah saya. Lagi-lagi saya hanya bisa berkata dalam hati, sungguh Mbak kos adalah orang yang tegar.

Hari mulai malam, saya kembalikan kunci kos yang sejak tiga bulan lalu masih saya pegang meskipun kamar itu bukan lagi milik saya. Ah, sebuah kesimpulan bisa saya tarik kejadian ini. Saat kita memilih untuk memutuskan sesuatu, kita harus memikirkan dampak keputusan tersebut di hari kemudian, bukan hanya hari ini. Jangan sampai kita menyesal satu bulan, enam bulan, ataupun delapan bulan kemudian (seperti saya). Mulai hari ini, saya belajar untuk tidak menyesali keputusan saya. Saya menganggap ini semua sebagai suatu awal hidup baru bagi saya, hidup menjadi lebih dewasa.

Karena bisa saja yang kita lihat hari ini tidak akan sama seperti yang kita lihat hari esok.

Dari dalam hati,
Suci Nurkhasanah


"Mengalah itu tidak sama dengan kalah. Yang mengalah biasanya akan lebih dulu menemukan kesuksesan karena kematangan dan kedewasaan mentalnya." --Bapak Kos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar