Teringat perbincangan sore kemarin antara saya dengan bapak-ibu kos ketika
saya memboyong sisa barang-barang saya. Ah, sejak kepindahan saya tiga bulan
yang lalu bapak-ibu kos masih sama. Mereka dua orang yang ramah tetapi dengan
cara yang berbeda (mungkin karena bapak kos adalah anggota TNI AU jadi sedikit
tegas). Namun tak bisa saya pungkiri bapak kos termasuk dalam kategori tegas
yang ramah.
Bapak dan ibu kos sama-sama minta maaf atas keputusan saya untuk pindah kos sebelum waktunya. Padahal dalam hati, saya berkata
bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan atas keputusan saya yang
sangat labil tetapi rasional waktu itu (meskipun dalam hati pula, tak bisa dipungkiri bahwa saya adalah yang paling dirugikan atas keputusan saya sendiri).
Bapak kos kemudian bercerita bahwa kejadian yang saya alami ternyata juga
terjadi di tahun sebelumnya. Hanya saja bedanya adalah Mbak kos saya tersebut
lebih memilih untuk bertahan dalam ruang 3x3 yang dihuni dua orang. Sampai
akhirnya kelulusan tiba, barulah terungkap semua keluh kesah Mbak kos. Bedanya
lagi adalah, saya memilih untuk tidak memberitahu alasan kepindahan saya,
unek-unek saya, karena menurut saya itu sifatnya personal. Setelah Bapak kos
bercerita tentang Mbak kos tahun lalu, saya bisa menarik kesimpulan. Ternyata
masalah yang dialami mirip dengan masalah saya. Lagi-lagi saya hanya bisa
berkata dalam hati, sungguh Mbak kos adalah orang yang tegar.
Hari mulai malam, saya kembalikan kunci kos yang sejak tiga bulan lalu masih
saya pegang meskipun kamar itu bukan lagi milik saya. Ah, sebuah kesimpulan
bisa saya tarik kejadian ini. Saat kita memilih untuk memutuskan sesuatu, kita
harus memikirkan dampak keputusan tersebut di hari kemudian, bukan hanya hari
ini. Jangan sampai kita menyesal satu bulan, enam bulan, ataupun delapan bulan
kemudian (seperti saya). Mulai hari ini, saya belajar untuk tidak menyesali keputusan saya.
Saya menganggap ini semua sebagai suatu awal hidup baru bagi saya, hidup
menjadi lebih dewasa.
Karena bisa saja yang kita lihat hari ini tidak akan sama seperti yang kita
lihat hari esok.
Dari dalam hati,
Suci Nurkhasanah
"Mengalah itu tidak sama dengan kalah. Yang mengalah biasanya akan lebih dulu menemukan kesuksesan karena kematangan dan kedewasaan mentalnya." --Bapak Kos
Tidak ada komentar:
Posting Komentar