Senin, 13 Oktober 2014

Empat Bagian

Teringat kata-kata Mas Sobat ketika syawalan Komunitas Perdu. Mas Sobat waktu itu sempat menyebutkan sumbernya, tetapi aku lupa. Kira-kira seperti ini kata-katanya, "...Di dalam diri kita ada empat bagian. Bagian di mana kita dan orang lain tahu, kita tahu tetapi orang lain tidak tahu, kita tidak tahu tetapi orang lain tahu, dan kita dan orang lain sama-sama tidak tahu." Hmm, aku sedang berpikir tentang keempat hal tersebut.

Kita dan orang lain tahu? Ibarat apa ya? Ibarat sesuatu yang tampak mungkin. Yang bersifat lahiriah kah? Atau misalnya sifat-sifat yang kita dan orang lain sadari. Kita dan orang lain tahu bahwa itulah yang ada di diri kita.

Bagian yang kita tahu tetapi orang lain tidak tahu, ini seperti rahasia di dalam diri kita. Mungkin juga hal yang tidak ingin orang lain tahu. Aibkah? Hmm... Saat pelajaran agama di SMA dulu, aku ingat apa yang dikatakan guruku, "Hal yang tidak ingin diketahui oleh orang lain namanya aib." Lalu bagaimana jika hati kita menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain? Masihkah namanya aib? Mungkin dinamakan aib karena hanya kita sendiri yang mengetahuinya.

Bagian yang ketiga adalah kita tidak tahu tetapi orang lain tahu. Yahh, pada akhirnya pepatah gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak memang benar adanya. Orang-orang di sekeliling kita mengetahui kelemahan, kesalahan, dan celah yang ada di diri kita. Bahkan ketika hal itu sangat kecil dan sama sekali tidak kita sadari. Untuk itu, mungkin kata introspeksi adalah yang paling tepat.

Jika dari segi positif, bagian ini mungkin bisa diartikan seperti ini, terkadang kita terlalu minder atau rendah diri dengan apa yang kita miliki. Kita tak menyadari potensi yang ada dalam diri kita. Justru orang lain yang melihatnya. Hmm, jika demikian adanya maka percaya dirilah yang dibutuhkan.

Bagian terakhir, yaitu bagian yang kita dan orang lain sama-sama tidak tahu. Lalu siapa yang tahu? Ya hanya Tuhannya lah yang tahu. Di dalam diri setiap manusia, ada bagian di mana hanya Allah yang tahu. Mungkinkah itu adalah apa yang akan terjadi di diri kita kelak? Semacam takdir kah? Hmm, bisa jadi.

Mungkin di antara teman-teman ada yang bisa menambahkan? Ah, mohon maaf jika tulisan ini banyak kelirunya. Tulisan ini berdasarkan apa yang dilihat dari balik kacamata anak labil sepertiku. Hehe.

Selamat pagi, semoga Allah melancarkan hari ini. :-)

Minggu, 12 Oktober 2014

Mengenal Diri Sendiri

Aku sering penasaran bagaimana cara kerja tes psikologi. Bagaimana bisa beberapa pertanyaan akhirnya bisa mendeskripsikan hal-hal yang ada di diri seseorang? Hmm, beberapa kali aku mengikuti tes psikologi online (*lol), dan hasilnya yahh membuatku berkata, "Itu kok aku banget ya?" Nah, yang jadi pertanyaan adalah... Jika aku sudah mengenal kepribadianku, mengapa aku masih penasaran? Mengapa aku masih saja tertarik mengikuti tes psikologi? Haha, aku merasa aneh.

Jadi ingat ketika pertama masuk kuliah. Di semester satu ada mata kuliah Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian (KSPK). Mata kuliah itu mengajarkan bagaimana mengenal diri sendiri, mengenal dan menghargai orang lain, internalisasi nilai-nilai dalam masyarakat (dan nilai-nilai Kementerian Keuangan), serta bagaimana mengembangkan potensi yang ada dalam setiap individu. Mata kuliah yang sangat berkesan, ada kunjungan ke Kantor Pelayanan Pajak, sering ada acara nonton film, setiap tugas dijadikan ajang unjuk kreativitas, hampir setiap pertemuan menyanyikan lagu Jingle Pajak, Nilai-nilai Kemenkeu, Mars STAN, dan lagu-lagu lain yang menurutku cukup bisa dijadikan ice breaking, dan masih banyak hal seru lainnya... Dan yang terpenting adalah: Tidak ada bahasan mengenai undang-undang. Mata kuliah yang sangat menyenangkan menurutku, hehe. :D

Dulu, kami diminta menyiapkan selembar kertas, memberi nama, kemudian melipat kertas itu menjadi dua. Lipatan tersebut digunakan sebagai pembatas. Bagian kiri, nantinya akan berisi kelebihan kami dan bagian kanan akan berisi kelemahan kami. Dalam waktu sepuluh menit, kami harus menuliskan sebanyak mungkin kelebihan dan kelemahan kami. 

Hal ajaib yang aku lakukan adalah... Cukup satu menit untuk menuliskan semua kelemahanku (sampai kolomnya penuh lho), sementara itu aku butuh sembilan menit untuk memikirkan apa kelebihan yang kumiliki. Itu baru dipikirkan lho, belum aku tulis karena memang tidak kutemukan. Pada akhirnya karena kertas itu harus dikumpulkan maka aku menuliskan satu kata di kolom kelebihan: BAIK

Batinku: Wow Cik, kamu yakin kamu kenal dirimu sendiri? Kok suruh nulis kelebihan aja gak bisa? Wah, kayaknya ini 'tes psikologi' yang paling susah ya Cik? Mungkin karena bukan via online. #plakk, ga ada hubungannya keleesss...

Saatnya putaran kedua. Lagi-lagi kami diminta menyiapkan kertas, memberi nama, kemudian melipatnya menjadi dua. Tetapi kali ini berbeda. Kami harus memutar (rolling) kertasnya. Jadi, kertas tersebut nantinya akan berisi pendapat orang lain tentang diri kita. Satu orang (kalau bisa) menuliskan satu kelebihan dan juga kelemahan.

Sepuluh menit telah usai, waktunya kertas dikembalikan. Ada kata-kata ajaib di kolom kelebihan yang mebuatku terharu sekaligus berbunga-bunga. Seperti itukah teman-teman melihatku? Hehe. Kolom kelemahan juga penting lho. Jadi selain termotivasi, kami juga bisa berinstrokpeksi. Hihi. Terima kasih membantuku mengenal diriku...

Ah, kalau begini selain mengikuti tes psikologi, akan lebih baik jika kita tanya pendapat orang lain tentang diri kita. Jadi ingat sebuah wejangan dari Bu Puji, guru Bahasa Indonesia kelas X SMA dulu, "Kita adalah kumpulan persepsi dari orang lain." Ya, itulah kita. Itulah diri kita yang sesungguhnya.

Salam manis,

Pencari Jati Diri. :-)

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kau, Dia, dan Aku: Kata-kata yang Hilang

Kau

Aku tak pernah menyangka di dunia ini ada orang sepertimu. Kukira  aku adalah orang yang sangat beruntung bisa bertemu denganmu. Ya, kau itu seperti memiliki magnet tersendiri bagi kaum wanita. Medannya yang kuat, mampu menggetarkan hati kami. Haha, kata-kata yang klise. Tapi ada hal yang membuatku tak habis pikir, kau baru saja didepak? Dengan segala karisma dan hal istimewa yang kau punya, ternyata masih ada wanita yang melihat celahmu. Ngomong-ngomong, bukankah setiap manusia punya celah? Lalu beberapa kali aku mengerutkan dahi dan berpikir, terlalu besarkah celahmu?

Bukan aku namanya jika tak ingin tahu. Aku sudah macam detektif saja, gali informasi sana-sini. Kamu, lebih tepatnya sifatmu, seperti kasus yang harus kupecahkan. Rumit. Satu kata yang menggambarkanmu. Entah karena memang rumit, atau aku saja yang masih terlalu polos untuk terjun ke dalam pencarian identitas seperti ini.

Seperempat windu sudah aku dalam posisi yang sama. Tak beranjak sedikit pun, tak mundur apalagi maju. Stagnan saja sudah membuatku bersyukur. Dengan keterampilan menyesuaikan diri yang kumiliki, aku mampu bertahan dalam semua kondisi. Terlebih ketika aku selalu ada tetapi kau tak pernah ada. Aku selalu berpikir kau mungkin sibuk, alih-alih menganggapmu egois. Cukup masuk akal, kan?

Tak sedikit pun dari sifatmu yang membuatku goyah, kecuali yang terakhir ini. Boleh aku ulangi pembahasan klise tentang magnet di awal tadi? Supaya aku dan kamu ingat. Magnetmu kuat, bahkan terlalu kuat. Sayangnya kau menggunakannya dengan cara yang tidak tepat. Kau berpikir akan menarik semuanya, maksudku semua wanita yang menganggapmu dekat? 

Entah wanita yang mendepakmu itu yang benar, atau perasaanku yang keliru. Kau sempurna memang, jika dilihat dari jauh. Harusnya aku paham yang seperti ini. Sudah terlalu lama aku lupa kalau kamu manusia biasa. Aku bodoh? Tapi bukankah semua orang mendadak tolol ketika jatuh cinta?


Dia

Aku tak ingin membahas wanita yang kusebutkan di awal tadi, karena jujur aku bahkan tak mengenalnya. Yang ingin kubahas hanyalah ‘dia’. Anggap saja si dia ini adalah orang yang hampir sama denganku—meskipun dalam kasus ini aku tak ingin disamakan dengan siapa pun. Mengenalmu tak cukup beribu hari, tetapi mendekatimu cukup dengan hitungan minggu. Aku tak menyalahkan siapa pun dalam hal ini, jika bukan aku yang kena dampaknya.

Lagi-lagi masalah magnet. Sayang sekali hal klise itu harus beberapa kali disebut di sini. Ya, dia salah satu yang kau tarik ke dalam medanmu. Rasanya? Bahagia memang. Siapa sih yang tak bahagia bisa kau tarik dalam dekapanmu hah? Ah, berat mengatakan bahwa kau memang menawan dalam segala hal.

Apa hubungannya denganku? Sebelum hari itu tiba, memang tidak ada yang tahu. Tapi benar saja, ketakutanku akan posisiku yang tidak akan stagnan lagi tiba-tiba terjadi. Aku mendapat sebuah salam manis khas orang jatuh cinta darinya. Sayang, aku sama sekali tak mengharapkannya. Dia mencintaimu, akunya. Wanita yang baru kau kenal kemarin sore merasakan itu. Dia dengan senang hati membeberkannya padaku, meminta nasehat dan pendapatku, tanpa dia tahu satu hal.


Aku

Aku tak bisa apa-apa kecuali satu, hatiku sesak. Tapi demi apa aku tetap bisa berpura-pura? Kepura-puraan yang sungguh menggelikan.

Aku tak bisa menyesalinya. Aku sampai lupa apa yang harus kukatakan padamu, pada wanita itu, pada dunia, agar berhenti setidaknya untuk menganggapku tak memiliki perasaan. Ini salah bibirku yang selalu terkatup. Kata-kata ini ada dalam siklus tanpa henti seperti ini: kupendam-kugali-kusiapkan-kupendam lagi-dan seterusnya. Kata-kata ini… selalu hilang setelah kusiapkan. Entah. 

Terlalu banyak yang kau tau tentang aku, tapi tidak untuk dia. Dan ini adalah masalah terbesar antara kau, dia, dan aku. Dia tak mencoba mengenalku. Sayang sekali. Andaikan dia berusaha mengenalku sedikit saja, maka dia akan tau betapa aku telah berada dan mungkin telah menyatu dalam medan magnetmu karena sudah terlalu lama.  



Ah, ini hanya obrolan ‘ringan’ menanti senja.
15:54 WIB

Senin, 06 Oktober 2014

Ketika Suci Frontal

Malam galauers… *dari salamnya, bau-baunya mau curhat nih anak -,-

Pernah jatuh cinta? Kalo gitu, pasti pernah dong cemburu? Aku pernah.

Iyess, sekarang ingin membahas topik mainstream itu. Sebelumnya aku peringatkan. Tulisan ini isinya galau, cengeng, dan menye-menye. Buat yang kurang suka sama yang seperti ini, mending stop di sini. Oke?

Sebelumnya, aku menganggap blog ini sebagai tempat buat sharing pengalaman. Yahh, siapa tau berguna buat orang lain. Kalo tidak berguna, ya seenggaknya berguna buat diriku sendiri. Biar aku bisa berekspresi, gitu. Tapi semakin ke sini, aku semakin sadar kalo tulisanku belakangan ini banyak galaunya. Meskipun kadang-kadang bukan itu yang aku rasain. Hmm, tapi malam ini beneran, aku lagi butuh tempat curhat. Dan rasanya ingin frontal. Kenapa aku ingin frontal di sini? Jawabannya adalah tidak ada yang membaca blog ini, dan jikapun ada pasti orang itu tidak mengenaliku. Hehe. Awalnya sih mau sms teman saja, tetapi karena ini udah terlalu malam, jadi tidak enak buat sms. Apalagi kalo topik yang dibahas tidak penting. Nah, karena ketidakpentingan itu sekali lagi aku peringatkan. Tulisan ini tidak akan berguna bagi pembaca, jadi buat yang kurang suka lebih baik stop di sini. :-)

Aku merindukannya. Cukup dua kata itu yang membuatku susah tidur.  

Sejak kapan, Cik? Sejak tujuh bulan yang lalu. Sejak tak kulihat lagi warna bajunya. Aku berusaha mengalihkan semua rindu itu. Berhasil. Jelas, karena sejak tujuh bulan yang lalu aku sudah masuk semester dua. Gak ada waktu buat mikirin hal yang gak berguna, karena ini adalah semester terakhir. Seenggaknya kata itulah yang dari awal masuk semester kedua berusaha aku tanamkan dalam pikiran. Aku harus lulus, yahh cumlaude—cita-citaku. Berat. Banget. Setiap malam, aku mulai mengalihkan semua itu dengan kesibukanku. Aku cuma bisa berpikir: Pikirin aja dia ngasih semangat ke kamu pas kamu belajar. Dan, syukurnya hal itu selalu berhasil. Meskipun terkadang saat memang tak ada kesibukan, otakku ini layaknya ter-setting buat memikirkan dia. Tapi bukan masalah, karena aku cukup bisa mengendalikannya.
Aku merindukannya. 

Siapa yang kamu maksud, Cik?
 
Dia adalah orang kedua dalam hidupku. Orang yang bisa membuatku melupakan cinta pertamaku. Orang yang memberikan serentetan kenangan sejak dua tahun yang lalu. Orang yang awalnya kuanggap kakak, tapi ternyata aku salah. Rasa ini lebih daripada itu, hanya aku yang terlambat menyadari. Sayangnya, tidak dengan dia. Dia sejak awal sudah menyadari perasaanku padanya. Dan bisa ditebak. Aku hanya bisa menerima kata maaf darinya.
Aku merindukannya.

Apa yang membuatmu rindu padanya?

Hanya satu: kebaikannya. Dia sangat baik. Setauku, dia sangat menghargai wanita, lebih dari lelaki lain yang selama ini kukenal. Dia melindungi wanita, dan tidak ingin membuat hati wanita terluka. Mungkin itulah yang membuat banyak wanita jatuh hati padanya. Aku tak heran, dengan daya tarik fisik maupun sikapnya. Justru akan aneh jika dia tidak didekati wanita.

Apakah kamu cemburu, Cik?

Tidak. Tepatnya pada awalnya aku tidak cemburu. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa. Tidak ada sesenti pun tempat untukku di dalam hatinya, aku tau itu. Bagaimana tidak? Dia yang dari mataku terlihat nyaris sempurna, hanya pantas dengan wanita yang nyaris sempurna pula. Wanita yang cantik, anggun, cerdas dan berwawasan luas, lembut, halus tutur katanya, pandai memasak, dan keterampilan-keterampilan lain yang menggambarkan bahwa wanita tersebut nyaris sempurna pula. Beberapa kali aku mematut-matut diriku, ahh Cik bahkan satu dari seabrek kriteria nyaris sempurna itu tak ada satupun yang melekat di dirimu. Aku bisa apa? Ketika aku mengatakan ini pada salah seorang temanku, dia hanya menyemangatiku seperti ini, ”Kalo memang beneran suka, gak bakal ngeliat kriteria-kriteria itu kok.” Aku tersenyum mendengarnya. Terima kasih. Tetapi motivasi itu malah membuatku semakin sadar. Sejak awal aku sudah tau dia tidak menyukaiku. Jadi bukankah tidak ada bedanya antara nyaris sempurna dengan disukainya?

Lho, tapi tadi di awal paragraf kamu berkata kamu pernah cemburu. Terus kamu cemburu sama siapa?

Yahh, aku sudah bilang pada awalnya memang aku tak cemburu. Tetapi belakangan ini aku baru sadar. Aku cemburu. Pada orang lain yang berhasil merebut perhatiannya dalam waktu yang singkat. Selama kurang dari tiga minggu lebih tepatnya. Aku selalu berbohong pada diriku sendiri. Aku munafik dan selalu berusaha terlihat baik. Toh aku berpikir, untuk apa aku cemburu dengan orang yang bahkan tidak dianggap apa-apa olehnya? Menghabiskan waktu bukan? Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu sebuah kejadian membuatku syok dan seperti memperingatkanku bahwa aku benar-benar cemburu.

Maukah kamu cerita di sini?

Baik. Aku berkenalan dengan wanita itu. Wanita yang membuatku cemburu. Bagaimana mungkin? Seseorang yang telah membuatku sakit itu ingin bersahabat denganku. Aku tak bisa menolak dan memang akan sangat bodoh jika aku menolaknya. Mengapa demikian? Karena sebuh alasan yang cukup logis: bukankah jika aku dekat dengannya, aku bisa tau tentang orang yang kusukai tersebut? Aku benar, seratus persen. Cuma hitungan hari, aku sudah akrab dengannya. Dia banyak curhat kepadaku, dan aku banyak tau tentang dirinya. Dan aku sadar perlahan, ketika dia bercerita kedekatannya dengan orang yang kusuka, ada rasa benci di dalam hati. Aku selalu merasa, seharusnya akulah yang dekat dengan orang yang kusukai itu. Ya, aku egois. Aku akui itu. Semakin hari aku semakin akrab dengannya. Hingga akhirnya suatu ketika, aku merasa ada yang salah dengan rasa benci di hatiku ini. Aku tidak nyaman dengan perasaanku. Aku selalu berpura-pura menjadi sahabat yang baik yang selalu mendengar keluh kesahnya. Aku sadar, aku cemburu. Aku sadar, ketika aku memberinya semangat, seharusnya aku menyemangati diriku sendiri dan bukan dia. Aku sadar aku muak dengan semua ceritanya. Aku sadar aku mau mengangis membaca semua curhatannya. Aku sadar setiap kali aku ingin menangis, aku tahan. Dari sederet kata aku sadar-aku sadar yang lain, yang paling membuatku terhenyak adalah ini: aku sadar aku munafik!

Wanita itu tidak tau. Dia tidak tau jika aku menyukai orang yang baru-baru ini dia sukai. Berulang kali aku berpikir dia tidak pantas memiliki rasa itu. Dia tidak pantas cengeng dengan selalu berkata padaku bahwa dia rindu. Sungguh demi apapun dia tidak pantas. Dia tidak tau betapa aku menyukai orang itu dua tahun belakangan ini, dan tidak hanya seperti dia yang baru tiga minggu mengenal orang itu. Dia tidak pantas mengatakan rindu jika baru beberapa minggu tak bertemu. Sementara aku? Sudah tujuh bulan dan tak pernah satu kali pun kata rindu keluar dari mulutku. Sekali lagi, dia tidak pantas cengeng. Rasanya aku ingin mengatakan ini setiap kali aku melihatnya cengeng: Jika kamu berpikir bahwa kamu adalah orang paling menderita sedunia, maka pada saat itu kamu adalah orang yang tidak pandai bersyukur.
 
Aku mencoba menenangkan diriku. Kata-kata itu juga harusnya aku pakai untuk menasehati diriku sendiri. Aku bilang pada diriku bahwa aku tidak berhak mengendalikan perasaan orang lain. Pedih sekali ketika perlahan aku harus menerima bahwa kita berhak menyukai orang yang sama dan berhak pula merindukan orang yang sama.

Sudah cukup, aku tak ingin ada tangis di sini.
Jangan kepada orang yang aku sukai! Tuhan, jangan dia!

Jumat, 03 Oktober 2014

Ingin ini, Ingin itu…

Banyak hal yang sejak lama ingin aku lakukan, tetapi sampai sekarang masih dalam angan-angan. Ketika melihat orang lain berhasil melakukan hal yang sama, rasanya aku ingin bisa seperti dia. Kenapa dia bisa melakukannya, sementara sampai sekarang aku hanya bisa membayangkannya? Tapi tapi tapi... setelah aku pikir ulang, bukankah apa yang ingin aku lakukan itu hanya indah jika di dalam angan saja? Indah bila dibayangkan? Ingin melakukan karena belum pernah dilakukan? Ingin melakukannya karena melihat orang lain berhasil sebelum aku? Jadi sekarang muncul pertanyaan, "Masihkah aku ingin melakukan hal yang sama?"

Suci Mau Apa?

Suci banyak banget maunya... Beberapa keinginan sih cuma iseng, demi kesenangan semata, dan gak ada gunanya. Makanya aku masih bingung, kayak yang aku tulis di paragraf di atas itu lho. Tapi tetep mau aku tulis deh keinginan gak penting ku itu. Ahh iya, jadi inget. Zaman awal-awal kuliah dulu aku punya buku harian. Di dalemnya ada hal-hal yang pengen aku lakuin. Dan… beberapa terwujud sih. Heheh. Siapa tau dengan nulis di blog ini, suatu saat aku bisa terwujud. Kan bakalan so sweet. Heheh. Ini nih keinginan gak penting. Jangan ketawa lho ya kalo keinginanku tuh absurd. -,-
 
1. Keliling Jogja

Selama satu tahun di Jogja, yang aku tau tuh cuma kamar kos sama BDK. Nyesek pake banget. Eh iya, satu lagi. Aku tau bandara, Terminal Condong Catur, sama Terminal Jombor. Jelas aja tau, kan itu rute kalo mau pulang ke Magelang. Wkwk. Hm, suatu ketika aku pernah main sama temen ke Malioboro, tapi sayang banget aku gak bisa nikmatin itu. Gak tau kenapa, gak asyik. Selain ke Malioboro, aku juga pernah ke Pantai Mpok Tunggal (acara kelas), dan Kaliurang (makrab kelas)—tentang makrab kelas, kapan-kapan aku posting deh. 

 Jadi, kalo Suci dikasih kesempatan buat keliling Jogja, tempat mana yang pengen Suci datengin?


Nah itu tuh. Masih bingung juga sih di mana tempat yang bagus. Tapi aku kok pengen ke Taman Lampion gitu ya? Terus… Bukit Bintang! Kayaknya aku tertarik sama wisata malam deh. Soalnya aku udah kelamaan jadi anak rumahan, dan sekalipun belum pernah pulang malam. Gak tau deh rasanya malam hari di luar rumah. Jadi pengen pengen pengen pake banget. Tapi ya banyak pertimbangan sih kalo mau keluar rumah  malam hari. Selain caranya, juga sama siapa perginya. Jelas lah kalo malem tuh harus naik motor, dan pergi sama keluarga (biar aman). Tapi maaf banget nih ya, yang aku maksud tuh bukan itu. Ya aku gak mau pura-pura sih, sebenernya yang aku maksud di sini tuh sejenis malam mingguan gitu. Soalnya belum pernah, jadi penasaran kayak apa. *yakk, dan sekarang kepolosanku terbongkar.

Udah ah, jangan dibahas lagi. Nah karena hal itu bakalan jadi masalah (aku masih anak baik-baik dan gak mau aneh-aneh sampai suatu saat nanti), jadi aku mutusin buat ngubur dalam-dalam keinginanku itu. Aku ganti deh jadi: Suci pengen keliling Jogja seharian, dari pagi sampe sore! Heheh, yang ini lebih baik kan? XD

       2. Beli es krim bareng, beli sesuatu couple-an, dan foto berdua sama orang yang aku sayang.

Aku masih normal deh guys. Masih kayak remaja lain yang alay, meskipun berat harus ngakuin semua ini. -,- Nah tapi yang ini menurutku cukup menyimpang. Jadi aku gak mau bahas dan lebih milih buat ngelupain yang satu ini. Toh ini gak ada gunanya kan keinginan kayak gini? Inget deh, hubungan cewek-cowok tuh harus ada batasannya. Meskipun ingin, tapi kalo sampe tahap kayak orang pacaran gini ya aku bakal mikir seribu kali. Jadi aku ganti deh keinginannya. Aku pengen beli es krim bareng, beli sesuatu couple-an, dan foto berdua sama orang yang berani bilang sayang gak cuma di depanku tapi di depan orangtuaku juga. Nangkep maksudku? :D 
 
       3. Dan banyak keinginan rahasia yang gak mau aku share di sini. :P


Nah, sekarang sampe tahap cita-cita (tapi aku cuma mau nge-share cita-cita jangka pendek). Gak ada lagi keinginan gaje, demi kesenangan, dan gak berguna kayak yang di atas…
1. Lulus TKD. 
2. Penempatan deket rumah.
3. Punya SIM.
4. Punya e-KTP. (iya, KTP-ku masih jadul. Huhu)
5. Bikin novel.
6. Jadi lebih baik dan gak childish.
7. Kurus(?) ---> ini keinginan yang penting gak sih? -____-

Kok gak dibahas sih Cik?

Gak tau kenapa kok pengen dibikin daftar aja ya? Soalnya gak bakalan seru sih kalo dibahas. Heheh. Ya intinya sekarang lagi berusaha buat mewujudkan keinginan-keinginan ituu...

Selamat malam, semoga Allah memeluk mimpi-mimpi kita. ;)