Senin, 06 Oktober 2014

Ketika Suci Frontal

Malam galauers… *dari salamnya, bau-baunya mau curhat nih anak -,-

Pernah jatuh cinta? Kalo gitu, pasti pernah dong cemburu? Aku pernah.

Iyess, sekarang ingin membahas topik mainstream itu. Sebelumnya aku peringatkan. Tulisan ini isinya galau, cengeng, dan menye-menye. Buat yang kurang suka sama yang seperti ini, mending stop di sini. Oke?

Sebelumnya, aku menganggap blog ini sebagai tempat buat sharing pengalaman. Yahh, siapa tau berguna buat orang lain. Kalo tidak berguna, ya seenggaknya berguna buat diriku sendiri. Biar aku bisa berekspresi, gitu. Tapi semakin ke sini, aku semakin sadar kalo tulisanku belakangan ini banyak galaunya. Meskipun kadang-kadang bukan itu yang aku rasain. Hmm, tapi malam ini beneran, aku lagi butuh tempat curhat. Dan rasanya ingin frontal. Kenapa aku ingin frontal di sini? Jawabannya adalah tidak ada yang membaca blog ini, dan jikapun ada pasti orang itu tidak mengenaliku. Hehe. Awalnya sih mau sms teman saja, tetapi karena ini udah terlalu malam, jadi tidak enak buat sms. Apalagi kalo topik yang dibahas tidak penting. Nah, karena ketidakpentingan itu sekali lagi aku peringatkan. Tulisan ini tidak akan berguna bagi pembaca, jadi buat yang kurang suka lebih baik stop di sini. :-)

Aku merindukannya. Cukup dua kata itu yang membuatku susah tidur.  

Sejak kapan, Cik? Sejak tujuh bulan yang lalu. Sejak tak kulihat lagi warna bajunya. Aku berusaha mengalihkan semua rindu itu. Berhasil. Jelas, karena sejak tujuh bulan yang lalu aku sudah masuk semester dua. Gak ada waktu buat mikirin hal yang gak berguna, karena ini adalah semester terakhir. Seenggaknya kata itulah yang dari awal masuk semester kedua berusaha aku tanamkan dalam pikiran. Aku harus lulus, yahh cumlaude—cita-citaku. Berat. Banget. Setiap malam, aku mulai mengalihkan semua itu dengan kesibukanku. Aku cuma bisa berpikir: Pikirin aja dia ngasih semangat ke kamu pas kamu belajar. Dan, syukurnya hal itu selalu berhasil. Meskipun terkadang saat memang tak ada kesibukan, otakku ini layaknya ter-setting buat memikirkan dia. Tapi bukan masalah, karena aku cukup bisa mengendalikannya.
Aku merindukannya. 

Siapa yang kamu maksud, Cik?
 
Dia adalah orang kedua dalam hidupku. Orang yang bisa membuatku melupakan cinta pertamaku. Orang yang memberikan serentetan kenangan sejak dua tahun yang lalu. Orang yang awalnya kuanggap kakak, tapi ternyata aku salah. Rasa ini lebih daripada itu, hanya aku yang terlambat menyadari. Sayangnya, tidak dengan dia. Dia sejak awal sudah menyadari perasaanku padanya. Dan bisa ditebak. Aku hanya bisa menerima kata maaf darinya.
Aku merindukannya.

Apa yang membuatmu rindu padanya?

Hanya satu: kebaikannya. Dia sangat baik. Setauku, dia sangat menghargai wanita, lebih dari lelaki lain yang selama ini kukenal. Dia melindungi wanita, dan tidak ingin membuat hati wanita terluka. Mungkin itulah yang membuat banyak wanita jatuh hati padanya. Aku tak heran, dengan daya tarik fisik maupun sikapnya. Justru akan aneh jika dia tidak didekati wanita.

Apakah kamu cemburu, Cik?

Tidak. Tepatnya pada awalnya aku tidak cemburu. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa. Tidak ada sesenti pun tempat untukku di dalam hatinya, aku tau itu. Bagaimana tidak? Dia yang dari mataku terlihat nyaris sempurna, hanya pantas dengan wanita yang nyaris sempurna pula. Wanita yang cantik, anggun, cerdas dan berwawasan luas, lembut, halus tutur katanya, pandai memasak, dan keterampilan-keterampilan lain yang menggambarkan bahwa wanita tersebut nyaris sempurna pula. Beberapa kali aku mematut-matut diriku, ahh Cik bahkan satu dari seabrek kriteria nyaris sempurna itu tak ada satupun yang melekat di dirimu. Aku bisa apa? Ketika aku mengatakan ini pada salah seorang temanku, dia hanya menyemangatiku seperti ini, ”Kalo memang beneran suka, gak bakal ngeliat kriteria-kriteria itu kok.” Aku tersenyum mendengarnya. Terima kasih. Tetapi motivasi itu malah membuatku semakin sadar. Sejak awal aku sudah tau dia tidak menyukaiku. Jadi bukankah tidak ada bedanya antara nyaris sempurna dengan disukainya?

Lho, tapi tadi di awal paragraf kamu berkata kamu pernah cemburu. Terus kamu cemburu sama siapa?

Yahh, aku sudah bilang pada awalnya memang aku tak cemburu. Tetapi belakangan ini aku baru sadar. Aku cemburu. Pada orang lain yang berhasil merebut perhatiannya dalam waktu yang singkat. Selama kurang dari tiga minggu lebih tepatnya. Aku selalu berbohong pada diriku sendiri. Aku munafik dan selalu berusaha terlihat baik. Toh aku berpikir, untuk apa aku cemburu dengan orang yang bahkan tidak dianggap apa-apa olehnya? Menghabiskan waktu bukan? Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu sebuah kejadian membuatku syok dan seperti memperingatkanku bahwa aku benar-benar cemburu.

Maukah kamu cerita di sini?

Baik. Aku berkenalan dengan wanita itu. Wanita yang membuatku cemburu. Bagaimana mungkin? Seseorang yang telah membuatku sakit itu ingin bersahabat denganku. Aku tak bisa menolak dan memang akan sangat bodoh jika aku menolaknya. Mengapa demikian? Karena sebuh alasan yang cukup logis: bukankah jika aku dekat dengannya, aku bisa tau tentang orang yang kusukai tersebut? Aku benar, seratus persen. Cuma hitungan hari, aku sudah akrab dengannya. Dia banyak curhat kepadaku, dan aku banyak tau tentang dirinya. Dan aku sadar perlahan, ketika dia bercerita kedekatannya dengan orang yang kusuka, ada rasa benci di dalam hati. Aku selalu merasa, seharusnya akulah yang dekat dengan orang yang kusukai itu. Ya, aku egois. Aku akui itu. Semakin hari aku semakin akrab dengannya. Hingga akhirnya suatu ketika, aku merasa ada yang salah dengan rasa benci di hatiku ini. Aku tidak nyaman dengan perasaanku. Aku selalu berpura-pura menjadi sahabat yang baik yang selalu mendengar keluh kesahnya. Aku sadar, aku cemburu. Aku sadar, ketika aku memberinya semangat, seharusnya aku menyemangati diriku sendiri dan bukan dia. Aku sadar aku muak dengan semua ceritanya. Aku sadar aku mau mengangis membaca semua curhatannya. Aku sadar setiap kali aku ingin menangis, aku tahan. Dari sederet kata aku sadar-aku sadar yang lain, yang paling membuatku terhenyak adalah ini: aku sadar aku munafik!

Wanita itu tidak tau. Dia tidak tau jika aku menyukai orang yang baru-baru ini dia sukai. Berulang kali aku berpikir dia tidak pantas memiliki rasa itu. Dia tidak pantas cengeng dengan selalu berkata padaku bahwa dia rindu. Sungguh demi apapun dia tidak pantas. Dia tidak tau betapa aku menyukai orang itu dua tahun belakangan ini, dan tidak hanya seperti dia yang baru tiga minggu mengenal orang itu. Dia tidak pantas mengatakan rindu jika baru beberapa minggu tak bertemu. Sementara aku? Sudah tujuh bulan dan tak pernah satu kali pun kata rindu keluar dari mulutku. Sekali lagi, dia tidak pantas cengeng. Rasanya aku ingin mengatakan ini setiap kali aku melihatnya cengeng: Jika kamu berpikir bahwa kamu adalah orang paling menderita sedunia, maka pada saat itu kamu adalah orang yang tidak pandai bersyukur.
 
Aku mencoba menenangkan diriku. Kata-kata itu juga harusnya aku pakai untuk menasehati diriku sendiri. Aku bilang pada diriku bahwa aku tidak berhak mengendalikan perasaan orang lain. Pedih sekali ketika perlahan aku harus menerima bahwa kita berhak menyukai orang yang sama dan berhak pula merindukan orang yang sama.

Sudah cukup, aku tak ingin ada tangis di sini.
Jangan kepada orang yang aku sukai! Tuhan, jangan dia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar