Aku sering penasaran bagaimana cara kerja tes psikologi. Bagaimana bisa beberapa pertanyaan akhirnya bisa mendeskripsikan hal-hal yang ada di diri seseorang? Hmm, beberapa kali aku mengikuti tes psikologi online (*lol), dan hasilnya yahh membuatku berkata, "Itu kok aku banget ya?" Nah, yang jadi pertanyaan adalah... Jika aku sudah mengenal kepribadianku, mengapa aku masih penasaran? Mengapa aku masih saja tertarik mengikuti tes psikologi? Haha, aku merasa aneh.
Jadi ingat ketika pertama masuk kuliah. Di semester satu ada mata kuliah Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian (KSPK). Mata kuliah itu mengajarkan bagaimana mengenal diri sendiri, mengenal dan menghargai orang lain, internalisasi nilai-nilai dalam masyarakat (dan nilai-nilai Kementerian Keuangan), serta bagaimana mengembangkan potensi yang ada dalam setiap individu. Mata kuliah yang sangat berkesan, ada kunjungan ke Kantor Pelayanan Pajak, sering ada acara nonton film, setiap tugas dijadikan ajang unjuk kreativitas, hampir setiap pertemuan menyanyikan lagu Jingle Pajak, Nilai-nilai Kemenkeu, Mars STAN, dan lagu-lagu lain yang menurutku cukup bisa dijadikan ice breaking, dan masih banyak hal seru lainnya... Dan yang terpenting adalah: Tidak ada bahasan mengenai undang-undang. Mata kuliah yang sangat menyenangkan menurutku, hehe. :D
Dulu, kami diminta menyiapkan selembar kertas, memberi nama, kemudian melipat kertas itu menjadi dua. Lipatan tersebut digunakan sebagai pembatas. Bagian kiri, nantinya akan berisi kelebihan kami dan bagian kanan akan berisi kelemahan kami. Dalam waktu sepuluh menit, kami harus menuliskan sebanyak mungkin kelebihan dan kelemahan kami.
Hal ajaib yang aku lakukan adalah... Cukup satu menit untuk menuliskan semua kelemahanku (sampai kolomnya penuh lho), sementara itu aku butuh sembilan menit untuk memikirkan apa kelebihan yang kumiliki. Itu baru dipikirkan lho, belum aku tulis karena memang tidak kutemukan. Pada akhirnya karena kertas itu harus dikumpulkan maka aku menuliskan satu kata di kolom kelebihan: BAIK
Batinku: Wow Cik, kamu yakin kamu kenal dirimu sendiri? Kok suruh nulis kelebihan aja gak bisa? Wah, kayaknya ini 'tes psikologi' yang paling susah ya Cik? Mungkin karena bukan via online. #plakk, ga ada hubungannya keleesss...
Saatnya putaran kedua. Lagi-lagi kami diminta menyiapkan kertas, memberi nama, kemudian melipatnya menjadi dua. Tetapi kali ini berbeda. Kami harus memutar (rolling) kertasnya. Jadi, kertas tersebut nantinya akan berisi pendapat orang lain tentang diri kita. Satu orang (kalau bisa) menuliskan satu kelebihan dan juga kelemahan.
Sepuluh menit telah usai, waktunya kertas dikembalikan. Ada kata-kata ajaib di kolom kelebihan yang mebuatku terharu sekaligus berbunga-bunga. Seperti itukah teman-teman melihatku? Hehe. Kolom kelemahan juga penting lho. Jadi selain termotivasi, kami juga bisa berinstrokpeksi. Hihi. Terima kasih membantuku mengenal diriku...
Ah, kalau begini selain mengikuti tes psikologi, akan lebih baik jika kita tanya pendapat orang lain tentang diri kita. Jadi ingat sebuah wejangan dari Bu Puji, guru Bahasa Indonesia kelas X SMA dulu, "Kita adalah kumpulan persepsi dari orang lain." Ya, itulah kita. Itulah diri kita yang sesungguhnya.
Salam manis,
Pencari Jati Diri. :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar