Rabu, 22 Oktober 2014

Jangan Loyo!

"Cik, kayaknya ceritamu bisa kamu jadiin novel, deh," kata seorang temen setelah mendengar curhatanku.

Alamak, novel? -______-

Yang bikin aku nggak yakin adalah:
1. Novel itu ratusan halaman. Sementara aku, kalau bikin cerpen aja suka mepet sama ketentuan halaman. Misalnya nih, di lomba tertulis naskah minimal 6 halaman dan maksimal 10 halaman. Bisa ditebak, aku pasti ngirimnya 6 halaman lebih dikit (yah hampir 7 halaman gitu). Hehe. Aku sampai heran kalau ada yang nanya ke panitia, "Boleh lebih dari 10 halaman nggak?" #gubrak

2. Setiap aku berusaha nambah halaman, rasanya tuh ngambang. Pasti ceritanya jadi ngebosenin. Hm, mungkin emang aku juga sih yang menyukai cerita yang cepet sampai ending. #gak_sabaran

3. Denger cerita dari banyak penulis yang naskahnya ditolak banyak penerbit. Dan itu gak cukup satu kali. Kirim, ditolak, edit, kasih penerbit lain, begitu seterusnya. Nah sebagai penulis pemula (atau bahkan bukan penulis pemula, cuma tukang curhat), aku kok selalu merasa kalau naskahku ini pasti ditolak. Duh. #pesimis

Tetapi aku mulai mikir. Jauh di dalam hati, aku juga ingin karyaku mejeng di toko buku, dibaca orang lain, disukai, bahkan sampai menginspirasi. Itu cita-citaku.

Seminggu terakhir ini aku pelan-pelan berusaha buat mewujudkan itu. Caranya adalah dengan mulai menulis. Alhamdulillah, dalam seminggu ini aku berhasil nulis 80 halaman A4, Times New Roman 12, spasi 1,5 (sampai hafal). Itu sesuatu banget lho. :') Caranya gimana? Jadi aku bikin outline dulu sebelum nulis. Dan outline-nya itu rinci sampai adegan per bab. Jadi pas di tengah jalan nggak usah mikir lagi buat memperpanjang cerita. Hehe. #caraku

Aku tahu, jumlah halaman itu masih kurang. Tetapi nyantai, toh ceritaku juga belum selesai kok. Hm, aku juga tahu tulisanku masih kacau, belum enak dibaca, dan masih butuh banyak waktu buat memperbaikinya. Karena itulah aku nggak boleh loyo. :D

Sekarang aku mengerti kenapa banyak penulis yang masih semangat aja meskipun sudah berkali-kali ditolak. Karena satu hal: mereka punya cita-cita. Dan nggak mungkin kan kalau cita-cita itu nggak butuh kerja keras? Semua butuh perjuangan~.

So, ditolak atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting sekarang nulis, nulis, dan nulis. Ditolak? Siapa takut! :D

Keep spirit,

Succipo

NB: Semangat juga buat persiapan TKD-nya! #bacaUUD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar